Club Cooee

Selasa, 20 September 2011

Jenis Gangguan Pada Telinga

Dalam dunia kesehatan (kedokteran), gangguan telinga atau pendengaran bisa berupa tinitus (telinga berdenging atau berdengung), radang kronis supratif telinga tengah atau RKSTT (congekan, meleran, atau kopoken). Ada pula tuli akibat bising (TAB) atau dalam bahasa kedokteran dikenal dengan noise induced hearing loss (fungsi pendengaran akibat kebisingan yang kuat dan kontinu). Selain itu, dikenal juga tuli bawaan atau keturunan (genetik/sejak lahir), tuli pada lanjut usia (lansia), dan tuli mendadak. Secara lebih detail, jenis gangguan pada telinga diuraikan seperti berikut.

Tinitus
Tinitus adalah gangguan pendengaran dengan keluhan perasaan mendengar bunyi tanpa ada rangsangan bunyi dari luar. Keluhan ini bisa berupa bunyi mendengung, mendenging, menderu, atau mendesis. Frekuensi tinitus bisa berlangsung secara terus-menerus atau hilang timbul. Tinitus tidak membuat penderita menjadi sakit secara langsung, tetapi sangat mengganggu dan tidak menyenangkan. Akhirnya, bisa berdampak pada kondisi psikis dan fisik yang selanjutnya bisa menurunkan produktivitas penderitanya, apalagi jika tinitus berkembang menjadi ketulian.

Tinitus biasanya diderita oleh para pekerja di tempat-tempat bising, seperti mereka yang berprofesi sebagai musisi khususnya heavy metal, ahli mesin (mesin turbin, mesin diesel, atau mesin percetakan), dan para pekerja industri. Sebuah studi menyebutkan bahwa di Amerika Serikat terdapat 40-50 juta penderita gangguan pada telinga dikaitkan dengan tinitus.

Tinitus dibedakan menjadi dua jenis, yakni tinitus objektif dan tinitus subjektif.

Tinitus objektif terjadi jika suara juga bisa didengar oleh pemeriksa atau dengan auskultasi di sekitar telinga. Tinitus jenis ini berasal dari transmisi vibrasi (getaran) sistem muskuler atau kardiovaskuler di sekitar telinga, misalnya gangguan vaskuler berupa aneurisma, aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah), dan tumor karotis; gangguan mekanis berupa tuba eustachius terbuka sehingga ketika bernapas membran timpani bergerak dan terjadi tinitus; atau karena kejang klonus otot tensor timpani, otot stapedius, dan otot palatum.

Sementara itu, tinitus subjektif terjadi jika suara hanya dapat didengar oleh pasien sendiri. Biasanya disebabkan proses iritatif atau degeneratif traktus auditorius dari sel-sel rambut getar koklea sampai pusat saraf pendengaran. Misalnya, karena intoksikasi obat dan hipertensi endolimfatik seperti penyakit meniere.

Tinitus bisa terjadi dalam berbagai intensitas, yakni tinitus nada rendah dan nada tinggi. Pada tinitus nada rendah akan terdengar suara bergemuruh. Biasanya tinitus jenis ini dikarenakan gangguan konduksi, seperti sumbatan liang telinga karena serumen (kotoran telinga), tumor, radang telinga tengah, dan otoskierosis. Jika disertai peradangan, tinitus akan berasa berdenyut (pulsasi). Jika terjadi tinitus yang berdenyut tanpa disertai gangguan pendengaran bisa jadi merupakan gejala dini pada tumor glomus jugulare.

Pada tinitus nada tinggi akan terdengar suara berdenging. lni biasanya terjadi pada tuli sensorineural yang bisa terjadi secara terus-menerus atau hilang timbul. Jenis ini biasanya terjadi pada intoksikasi obat (salisilat, kina, streptomicin, garamicin, digitalis, dan kanamicin); hipertensi endolimfatik (penyakit meniere); gangguan pada vaskuler koklea terminal yang terjadi pada pasien yang stres akibat gangguan keseimbangan endokrin, seperti menjelang menstruasi, hipometabolisme, dan saat hamil. Gangguan itu akan hilang jika keadaan sudah kembali normal.

Pada dasarnya, tinitus bukan penyakit, tetapi gejala adanya masalah lainnya. Beberapa hal yang bisa menimbulkan tinitus antara lain penyumbatan saluran atau liang telinga oleh rumah Jilin, alergi makanan tertentu atau alergi lain, reaksi terhadap obat-obatan kimia tertentu, infeksi telinga tengah (radang kronis), ketidakberesan saluran darah di otak, ketidaknormalan saraf auditori (karena rentan terhadap suara keras), diabetes mellitus, kolesterol tinggi, pilek, hipertensi, tumor otak, susah tidur, serta vertigo.

Pada penderita diabetes mellitus atau kadar gula darah yang tinggi dan kadar koleseterol yang tinggi, biasanya aliran darah mampat atau peredaran darah terhambat. Akibatnya, telinga menjadi berdengung (tinitus), bahkan karena terlalu beratnya bisa menjadi tuli.

Ketika kadar darah seseorang meningkat atau disebut dengan darah tinggi (hipertensi) bisa dipicu karena minum obat kimia secara rutin dan dalam jangka waktu yang panjang, atau karena menderita gangguan penyakit tertentu sehingga memerlukan obat kimia untuk jangka waktu yang panjang. Pemakaian obat yang terlalu lama akan mengganggu fungsi ginjal dan akhirnya menimbulkan tinitus, sehingga jika pemakaian obat tersebut dihentikan, tinitus akan berkurang.

Gangguan pada telinga juga terkait dengan gangguan pada telinga, hidung, dan tenggorok (THT). Biasanya orang yang sering terserang pilek atau disebut dengan gangguan sinusitis akan disertai dengan gangguan pada telinga. Selain itu, penderita bisu tuli sudah pasti mengalami gangguan pada telinga berupa tinitus. Umumnya, bisu tuli bawaan dari lahir.

Tumor otak juga bisa memunculkan adanya tinitus dan penurunan fungsi pendengaran. Bukan hanya pada telinga, tumor otak juga menimbulkan gangguan pada fungsi penglihatan. Tumor otak menyebabkan saraf pendengaran terjepit. Komplikasi ini sangat dan paling sulit diatasi karena yang diserang sarafnya. Susah tidur (insomnia) juga menyebabkan terjadinya gangguan pada telinga. Dalam keadaan susah tidur, limpa akan terganggu, padahal organ inilah yang mengendalikan fungsi ginjal.

Vertigo menyerang telinga tengah dan telinga dalam. Vertigo juga bisa muncul karena adanya suara keras yang diterima daun telinga dan lubang telinga yang merupakan telinga bagian luar. Vertigo adalah keadaan pusing yang luar biasa. Seseorang yang menderita vertigo biasanya memiliki perasaan seolah-olah dunia sekelilingnya berputar-putar (vertigo objektif) atau penderita sendiri merasa berputar dalam ruangan (vertigo subjektif). Biasanya, juga disertai dengan mual dan muntah, jika sangat berat penderita tak mampu berdiri dan terjatuh karena keseimbangan tubuhnya terganggu. Diketahui, keseimbangan tubuh dikendalikan otak kecil yang mendapat informasi mengenai posisi tubuh dari organ keseimbangan di telinga tengah.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

footer widget