Club Cooee

Senin, 26 September 2011

Ada Kekacauan Ada Peluang

Ada kekacauan (disruption) yang selalu ditunggu-tunggu, dan harus disikapi secara positif, yaitu di bidang bisnis. Namun, jangan dibayangkan kekacauan di dunia bisnis ini seperti laiknya kerusuhan, atau persaingan bisnis yang tidak sehat lainnya. Kekacauan dalam konteks ini adalah terjadinya suatu gelombang perubahan yang besar (wave dis-ruption), dalam teknologi. Dalam kondisi demikian, amat memungkinkan suatu bisnis baru menembus barikade entry barrier yang dibangun oleh bisnis yang telah mapan. Seperti diketahui, di dunia bisnis persaingan berlangsung sangat ketat, sehingga bagi mereka yang sudah masuk lebih dulu dalam industri akan berusaha sekuat tenaga untuk menghalangi-halangi masuknya pesaing baru. Nab, pesaing baru ini hanya mungkin bisa masuk kalau terjadi perubahan-perubahan yang besar.

Dalam memanfaatkan celah tersebut ada dua cara yang bisa digunakan, menunggu sampai terjadinya perubahan besar atau mengambil inisiatif menciptakan perubahan besar itu sendiri dengan membuat penelitian yang masif. Sebagai studi kasus mengenai bagaimana kekacauan teknologi bisa membuka peluang masuknya pesaing baru, atau bahkan mengubur bisnis yang tadinya eksis, berikut kita simak sejarah perkembangan industri eceran di AS, yang juga mempengaruhi bisnis eceran diseluruh penjuru dunia.

Ada empat gelombang kekacauan teknologi yang telah merubah konfigurasi industri eceran di AS, yang menyebabkan masukknya bisnis baru. Gelombang pertama adalah munculnya department store di pusat kota, misalnya, Marshall Field’s yang amat terkenal pada awal 1870-an. Berkembangnya teknologi transportasi, telah melahirkan gelombang kekacauan teknologi kedua di bisnis eceran. Model department store tersaingi dengan masuknva bisnis eceran baru dengan model. yang rnengandalkan distribusi dan informasi yang ditulangpunggungi transportasi, yaitu eceran dengan sistem mail-order catalogs. Dengan model ini bisnis eceran mampu melayani pelanggannya yang ada di pedesaan, yang tidak mungkin dijangkau department store. Akibatnya pangsa pasar department store harus dibagi dengan mail-order catalogs, dan memunculkan pesaing baru seperti Sears, Roebuck (1890-an).

Bisnis eceran model mail-order catalogs pun tidak kuasa rnernbendung masuknya pesaing baru, ketika sistem “jemput bola” muncul, yaitu masuknya toko-toko serba ada ke kota-kota kecil hingga pedesaan di awal 1960-an, seperti Kmart dan Wal-mart. Ini dimungkinkan oleh gelombang perubahan teknologi ketika. Terakhir, gelombang perubahan teknologi keempat yang dimulai sejak awal 1990-an, yang mernberi keleluasaan masuknya pesaing baru mini market berupa eceran on-line, seperti Yahoo, American On-line, Amazon dan lain sebagainya. Di gelombang keempat ini, konsumen tidak perlu lagi datang ke mini market, melainkan cukup menyentuhkan jari ke keyboard komputer dari rumah masing-masing. Teknologi yang memungkinkan ini adalah internet.

Kalau disimak, faktor lain di luar teknologi atau akibat teknologi celah yang memungkinkan pesaing bisa memasuki industri adalah makin menurunnya keuntungan (margin) dan meningkatnya perputaran persediaan. Di era department store, misalnya, keuntungan yang bisa didapat rata-rata 40% dan perputaran persediaan tiga kali. Kemudian di era mail-order catalogs, keuntungan bisnis eceran rata-rata tinggal 30%, tetapi perputaran persediaan meningkat menjadi 4 kali. Memang bisa saja terjadi, dengan masuknya pesaing baru, bisnis lama bisa terkubur. Namun, secara industri tidak demikian. Terbukti, hingga saat ini meskipun eceran on-line tumbuh subur, tetapi eceran model mini market, seperti Indomaret tetap eksis. Tetetapi juga dapat dipastikan gelombang perubahan tekonologi bisa membuka kemungkinan pesaing masuk industri. Tinggal memilih, menunggu atau menciptakan perubahan untuk masuk arena? Tentu akan masih banyak lagi gelombang teknologi atau yang lainnya yang bisa menjadi pendorong terjadinya perubahan besar pada masa-masa mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

footer widget